Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

3 Alasan Mengapa Lebih Gampang Stres daripada Bahagia

Minggu, 14 September 2014

Rasanya memang tidak ada orang yang bebas dari stres. Masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti beban pekerjaan, situasi keuangan, dan juga konflik dengan pasangan, bisa membuat kita selalu merasa tegang dan cemas.

Ada banyak alasan mengapa kita sulit bersikap tenang ketika menghadapi masalah-masalah tersebut. Tetapi menurut Jan Bruce, CEO meQuilibrium, sistem coaching digital untuk stres, paling tidak ada 3 alasan mengapa manusia modern lebih gampang merasakan emosi stres ketimbang bahagia.

1. Merasa membuang waktu
Mengapa perlu keluar kantor dan berpanas-panasan jika Anda bisa makan di meja sambil menyelesaikan pekerjaan? Mengapa harus berjalan kaki dan menghabiskan waktu 10 menit ketika kita bisa naik kendaraan dan pulang lebih cepat untuk bersantai?

Memang ironis tapi itu fakta: kita merasa bisa menghemat waktu dengan memberikan pada diri kita waktu yang sedikit. Tetapi cara kerjanya bukan seperti itu. Waktu tidak selalu uang dan kita tidak bisa menyimpannya dalam toples. Anda harus menghabiskannya saat memilikinya. Kuncinya adalah menghabiskan waktu dengan bijaksana. Belum tentu Anda bisa punya kesempatan untuk menikmati waktu tersebut.

2. Fokus pada masa depan
Mayoritas kita menghabiskan waktu kita untuk memikirkan apa yang terjadi di masa depan, entah itu akan terjadi besok atau mungkin terjadi minggu depan. Tetapi jika kita kehilangan momen saat ini, sebenarnya kita sudah kehilangan banyak hal. Kita tak bisa tenang, gembira, dan tidak bisa menikmati jika kita tak sungguh-sungguh ada untuk saat ini.

Pada derajat tertentu, insting bertahan hidup manusia akan selalu membuat kita terlatih demi masa depan. Ini memang cara kita hidup. Tetapi mereka yang lebih tahan, fleksibel, dan lebih bahagia, adalah mereka yang menghargai momen saat ini.

3. Membela diri
Karena banyaknya tuntutan atas waktu, perhatian, dan sumber daya kita, seringkali kita merasa takut untuk membuat "pintu otak" kita agar tidak dibanjiri stres tambahan. Padahal terkadang kita perlu membuka diri sedikit untuk hal yang berbeda dan melepaskan ketegangan.

Ini berarti kita bisa menjalani hari-hari dan juga akhir pekan dengan melakukan sesuatu dari yang rutin kita lakukan. Cari kesempatan untuk menghubungi teman, atau membaca buku yang bisa membuat Anda masuk ke dunia cerita. Atau berbaring di rumput dan memandangi langit tanpa perlu berpikir apa pun.

Rasa takjub, tenang, dan gembira, bukanlah sesuatu yang kita rencanakan untuk nanti. Kita harus berusaha meluangkan waktu untuk merasakannya saat ini.

Sumber : http://health.kompas.com
Continue Reading...

Ekspresikan Pikiran dan Perasaanmu (Terapi Menulis)

Rabu, 25 Juni 2014

Di dinding sebuah toko pakaian di Bandung terpampang slogan unik: stressed, depressed, but well-dressed. Kelakar yang bagus, tapi belum begitu jelas apakah kalau mengenakan busana bagus seseorang akan merasa nyaman dan berkurang stresnya. Lain hal dengan menulis, yang diyakini mampu meringankan ketegangan yang dialami seseorang.

Dalam studinya mengenai expressive writing, Pennebaker dan Beall meminta sebagian mahasiswa untuk menulis selama 15 menit dalam 4 hari berturut-turut. Topiknya: pengalaman tak menyenangkan yang paling traumatis. Dengan menulis ekspresif, penulis bebas menuangkan pikiran dan perasaannya tanpa pembatasan. Sementara, sebagian mahasiswa lainnya diminta menulis topik biasa, seperti soal kamar atau sepatu mereka.

Hasilnya? Peserta yang menuangkan pikiran dan perasaan terdalam mereka secara ekspresif dilaporkan memetik manfaat yang sangat berarti. Dalam empat bulan sesudahnya, mereka menjadi jarang sakit. Kondisi psikologis mereka bertambah baik dan dalam jangka panjang mereka kian jarang menemui persoalan kesehatan. Apa yang selama ini tersimpan di dalam benak dan hati akhirnya terekspresikan ke luar dalam tulisan dan kata-kata.

Studi mengenai efek positif dari aktivitas menulis ekspresif juga ditunjukkan tatkala digunakan untuk membantu para veteran Perang Vietnam. Manfaat terapetik dari aktivitas menulis ekspresif dirasakan oleh banyak orang. Menulis ekspresif menjadi sejenis katarsis, saluran tempat mengeluarkan segala yang membebani pikiran dan perasaan.

Lembar kertas ataupun halaman word siap untuk menampung uneg-uneg kapan saja tanpa mengeluh. Kertas juga tidak akan menceritakan kepada orang lain apa yang ia tahu. Kertas atau layar komputer tidak akan ‘bawel’ menceritakan kepada orang lain perihal keluh kesah, kegetiran, kelelahan, atau apa saja yang membebani pikiran dan perasaan. Siapapun bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Biayanya murah.

Kathleen Adams, pendiri Centre for Journal Therapy di Colorado, AS, melukiskan hal itu dengan indah dalam bukunya, Journal to the Self: “Hampir 30 tahun saya memiliki terapis yang sama. Saya bisa bertemu dengan terapi saya jam 3 pagi, di hari perkawinan saya, ketika kesepian dan kedinginan di akhir tahun, dan bahkan ketika menunggu di kamar praktek dokter gigi. Saya bisa cerita apa saja kepada terapi saya ini kegelapan yang terdalam, fantasi yang paling liar, dan juga impian yang paling gila, dan terapis saya mendengarkan tanpa bersuara. Saya bisa menjerit... melucu, berintrospeksi, sentimentil, juga vulgar. Terapis saya akan menerima semua itu tanpa komentar, penilaian, ataupun kekesalan.” Ia menyebut jurnal tempat mengekspresikan pikiran dan perasaannya itu sebagai ‘terapi 79 sen’—harga dari buku tempat ia menulis.

Anda bisa mencoba menulis bebas dan kemudian merasakan manfaatnya. Tulislah secara lepas, biarkan pikiran dan perasaan Anda mengalir, janngan mengeditnya, jangan pedulikan tata bahasa, jangan hiraukan salah ketik, jangan pedulikan soal gaya—hanya menulis! Anda akan dapatkan tulisan ekspresif yang paling orisinal, yang mencerminkan pikiran dan perasaan Anda sebenarnya.

Kertas, layar komputer, dan kata-kata menjadi tempat Anda membebaskan pikiran dan perasaan dari kungkungan. Jika Anda mampu melakukannya, perlahan Anda akan terbebas dari beban. Lakukan setiap hari barang 15 menit. Selanjutnya, rasakan manfaat kebaikan dari tulisan ekspresif Anda!

Sumber : Tempo.co
Continue Reading...

Harta karun bernama kebahagiaan

Senin, 19 Mei 2014

Jika diajukan sebuah pertanyaan kepada Anda, “apakah anda ingin bahagia?”, jawabannya sudah pasti seperti jawaban saya, jika pertanyaan itu diajukan kepada saya. “Ya! Saya ingin bahagia.” Semua orang pasti menginginkan bahagia. Semua orang mempunyai hak untuk bahagia. Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana menjadi bahagia.

Menjadi bahagia itu tidak sesulit yang Anda bayangkan. Menjadi bahagia itu mudah, karena sesungguhnya semua orang memiliki potensi untuk menjadi bahagia dalam dirinya. Hanya saja, mereka tidak tahu jalannya. Banyak orang salah menerjemahkan “kebahagiaan”. Mereka memandang kebahagiaan sebagai “materi”, sehingga segala daya dan upaya dicurahkan untuk mengejar “materi” tersebut. Hasilnya, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Justru yang mereka dapatkan adalah kesusahan hidup, karena yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan yang semu.

Kebahagiaan yang haqiqi sebenarnya berada dalam diri Anda, manakala Anda mau mencari dengan sanubari. Sesungguhnya kebahagian itu adalah “harta karun” yang terpendam dalam hati Anda. Meskipun harta karun itu berada dalam hati anda, tetapi tidak otomatis anda dapatkan. Harta karun itu harus diusahakan. DIPERJUANGKAN !.

Sayangnya, banyak orang yang salah dalam “memperjuangkan” kebahagiaan. Mereka berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan dengan pergi ke klub malam, menjadi “sosialita”. Mereka berjuang mati-matian untuk meraih kebahagiaan dengan meraih karir setinggi-tingginya. Mereka berjuang dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, dengan menghalalkan segala cara. Mereka berjuang dengan mengorbankan harga diri, mengorbankan martabat, menerjang norma-norma yang ada. Sia-sialah apa yang mereka perjuangkan itu, karena Allah SWT telah mengingatkan kepada kita:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, disisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)
Jika Anda menginginkan kebahagiaan itu, kembalilah di jalan Allah. Lakukan segala aktivitas Anda karena ridla Allah. Jadikanlah kehidupan Anda sebagai ibadah. Kembalikan apa yang Anda peroleh kepada Alllah, senang atau susah. Jika Anda lakukan semua itu dengan ikhlas, Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang haqiqi, dunia dan akhirat !.

-----
Oleh: Rosyad
Guru BK SMP Negeri 4 Prambanan
Blog: www.konselorsekolah.com
Continue Reading...